Tahun 1636 Sultan Agung Mataram menggempur Giri Kedaton, Gresik, yang didirikan oleh Sunan Giri. Peristiwa ini menandai runtuhnya hegemoni Walisongo dalam politik kerajaan-kerajaan di Tanah Jawa. Meskipun kecil hanya sewilayah Gresik, Giri Kedaton ini berupa kerajaan-pesantren yang didirikan oleh salah satu Walisongo sehingga besar pengaruhnya di Nusantara.
Nusantara
Telusuri sejarah lengkap Nusantara: dari asal-usul nenek moyang, kejayaan Majapahit dan Sriwijaya, hingga penyebaran agama dan budaya di kepulauan Indonesia. Temukan fakta menarik, peninggalan purbakala, dan tokoh-tokoh ikonik yang memengaruhi perjalanan sejarah bangsa dalam satu kategori komprehensif
-
-
Walisongo Dalam Perebutan Tahta Kesultanan Demak
Sunan Kudus tidak senang Jaka Tingkir juga berguru ke Sunan Kalijaga selain ke dirinya. Sering terjadi perbedaan antara Sunan Kudus dan Kalijaga. Pada tahun 1543 keduanya berbeda pandangan soal penentuan awal mula Ramadhan.
-
Harmoni Ritual Pesugihan Jawa – Tionghoa di Pesarean Gunung Kawi Malang
Pesarean Gunung Kawi di sebelah barat kota Malang, Jawa Timur, terkenal hingga mancanegara sebagai tempat ziarah spiritual. Situs bermula sebagai tempat dimakamkannya Kyai Zakaria II. Tempat ini belakangan berkembang menjadi situs untuk memohon rezeki yang banyak dikunjungi masyarakat Jawa, Madura, dan keturunan Tionghoa.
-
Sunan Kuning dan Laskar Tionghoa: Kolaborasi Menentang Dominasi Kolonial
Kehidupan Sunan Kuning (Raden Mas Garendi) sudah diwarnai intrik politik berdarah sejak masa kecilnya, intrik yang menewaskan ayahandanya yaitu Pangeran Tepasana. Setelah ayahandanya tewas, Raden Mas Garendi dibawa lari meninggalkan Karaton Kartasura oleh Wiramenggala, pamannya, melintasi Gunung Kemukus menuju Grobogan.
-
Duet Pahlawan Nasional Dalam Perang Tahta Jawa III
Raden Mas Said alias Mangkunegara I saat itu berusia 22 tahun, bertempur secara gerilya di pedalaman Yogyakarta. Ketika berada di pedalaman Yogyakarta itulah Raden Mas Said mendengar kabar wafatnya Paku Buwono II, lantas menemui Pangeran Mangkubumi dan meminta mertuanya itu untuk bersedia dinobatkan menjadi raja baru Mataram.
-
Ki Ageng Sela Kakek Tua Pawang Petir
Tokoh Ki Ageng Sela dikisahkan punya kesaktian mampu menangkap petir. Dalam tradisi lisan di beberapa daerah di Jawa Tengah, diceritakan bahwa pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang mencangkul di sawah. Langit mendung lalu turun hujan dan tiba-tiba petir menyambarnya. Namun dengan kesaktiannya dia berhasil menangkap petir itu. Petir tersebut…
-
Haji Misbach Dalam Perjalanan Awal Masuknya Komunisme di Nusantara
Saat itu, awal Maret 1923, adalah Kongres Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Sarekat Islam (SI) di Bandung. Kongres itu juga dihadiri oleh dua komunis dari Sumatera Barat, yaitu Haji Datuk Batuah dan Natar Zainuddin. Haji Datuk Batuah dan Natar Zainuddin terkagum-kagum dengan pidato Misbach itu.
-
PKI Tanah Minang: Empat Muslim Tokoh PKI Cabang Padang Sumatera Barat
Datuk Batuah adalah tokoh PKI kelahiran Koto Laweh, pada tahun 1895 dan wafat pada tahun 1949 di tempat yang sama. Datuk Batuah adalah pendiri dan mejadi ketua PKI Cabang Padang Panjang pada Maret 1923 bersinergi dengan kekuatan elemen Islam lainnya melawan rejim kolonial di bumi Minangkabau. Rangkaian pertama pemberontakan PKI…
-
Tionghoa Nusantara Dalam Perspektif Sejarah Kemerdekaan RI
Gus Dur Presiden Pertama Keturunan Tionghoa KH Abdurrahman Wahid adalah Tionghoa pertama yang menjadi Presiden RI. Beliau keturunan Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah pendiri Kesultanan Demak. Raden Patah sendiri nama aslinya adalah Tan Eng Hwa. Tan A Lok dan Tan Eng Hwa…
-
Ernest Douwes Dekker: Cucu Multatuli, Bapak Republik
Melalui Max Havelaar dia ceritakan bagaimana bupati hidup mewah terutama kala menjamu kerabatnya sesama bupati di sebuah hajatan. Demi hajatan itu, kerbau-kerbau rakyat dirampas kaki tangan bupati. Mengambil milik orang lain, meski itu orang sesama pribumi, bagi Eduard adalah kejahatan.