Retaknya Topeng Intelektualitas: Batas Antara Jenius dan Delusi. Megalomaniak
Dokter Tifa dan bukunya yang diklaim "ilmiah"
Politik

Retaknya Topeng Intelektualitas: Batas Antara Jenius dan Delusi. Megalomaniak

Ada orang mengidap gangguan kejiwaan tertentu yang gejalanya baru kelihatan ketika merasa tertekan, tidak seperti ODGJ di mata masyarakat awam. Kehidupan sehari-hari mereka terlihat normal dan fungsional.

Contohnya: “dokter” Tifa. Dalam Citizen Lawsuit di PN Solo kemarin dia, ketika dicecar kuasa hukum UGM mengenai kapasitas intelektualnya, menyebut dirinya setara dengan Oracle, Socrates dan Plato. Bahwa satu buku yang ditulisnya setara dengan ribuan jurnal, sehingga tidak butuh terindeks Scopus.

Kalau sekalian dia mengklaim dirinya Nabi malah karuan, tidak ada ukurannya buat didebat. Sedangkan intelektualitas dan otoritas keilmuan itu bisa diukur, dan salah satu ukuran pentingnya bagi researcher agar diakui adalah jurnal terindeks Scopus itu tadi. Coba cek di Google, Tifa sudah menulis berapa buku.

Jadi rupanya media-media selama ini kebanjiran cuan dari nanggap gerombolan orang gila. Kasih panggung orang sakit.

Aku jadi ingat satu temanku seperti itu, bedanya dia laki-laki. Kejadiannya bertahun-tahun lalu ketika pertama kalinya aku pulang kampung. Dia tinggal sekomplek denganku. Mula-mula tampak normal-normal saja, dia menyambut antusias kepulanganku. Setiap hari datang sore-sore ngajak ngobrol sana-sini di teras.

Sampailah pada suatu hari, setelah beberapa minggu, dia datang bercerita bahwa karya-karyanya dicuri Microsoft dan pernah bertengkar dengan Bill Gates di sebuah Warung Tegal samping terminal Blok M.

Batinku: waduh!

Singkat cerita akhirnya terkonfirmasi oleh keluarganya sendiri bahwa dia memang sakit karena blablabla. Walhasil aku malah mbrebes mili!

Beberapa orang terlihat sangat stabil dan fungsional sehari-hari sesuai profesi masing-masing. Namun, ketika mengalami tekanan hingga tingkatan tertentu, mereka tiba-tiba kehilangan kontak dengan realita (seperti berhalusinasi atau delusi) untuk sementara waktu. Ada juga orang yang terlihat biasa saja saat situasi terkendali. Namun saat merasa terancam karena ditolak, atau kecewa berat, mereka bisa menunjukkan perubahan emosi sangat drastis, kemarahan meledak-ledak, perilakunya impulsif. Juga ada orang dari luar terlihat sukses dan produktif, tapi ketika beban kejiwaan ditambah sedikit saja, “topeng” ketenangan mereka langsung retak dan berubah menjadi serangan panik atau kelumpuhan mental.

Ki Ageng Wiratama

Menelusuri Jejak Masa Lalu Untuk Memahami Dunia Hari Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *