Pertempuran dahsyat terjadi tahun 656 M antara pasukan Aisyah binti Abu Bakar melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Aisyah adalah istri ketiga Nabi Muhammad SAW, anak Khalifah pertama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pada sisi lain Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW. Fatimah istri khalifah Ali…
-
-
Keagungan Peradaban Afghanistan pra-Islam Tinggal Kenangan
Setelah Najibullah digulingkan dan dieksekusi brutal oleh gerombolan Mujahidin yang dipersenjatai Amerika, Afghanistan jatuh ke tangan gerombolan Taliban yang terkenal tak kalah ganas-buas dengan markasnya di Kandahar.
-
Kiprah Sultan Agung Menyatukan Jawa di Bawah Hegemoni Mataram
Tahun 1636 Sultan Agung Mataram menggempur Giri Kedaton, Gresik, yang didirikan oleh Sunan Giri. Peristiwa ini menandai runtuhnya hegemoni Walisongo dalam politik kerajaan-kerajaan di Tanah Jawa. Meskipun kecil hanya sewilayah Gresik, Giri Kedaton ini berupa kerajaan-pesantren yang didirikan oleh salah satu Walisongo sehingga besar pengaruhnya di Nusantara.
-
Walisongo Dalam Perebutan Tahta Kesultanan Demak
Sunan Kudus tidak senang Jaka Tingkir juga berguru ke Sunan Kalijaga selain ke dirinya. Sering terjadi perbedaan antara Sunan Kudus dan Kalijaga. Pada tahun 1543 keduanya berbeda pandangan soal penentuan awal mula Ramadhan.
-
Harmoni Ritual Pesugihan Jawa – Tionghoa di Pesarean Gunung Kawi Malang
Pesarean Gunung Kawi di sebelah barat kota Malang, Jawa Timur, terkenal hingga mancanegara sebagai tempat ziarah spiritual. Situs bermula sebagai tempat dimakamkannya Kyai Zakaria II. Tempat ini belakangan berkembang menjadi situs untuk memohon rezeki yang banyak dikunjungi masyarakat Jawa, Madura, dan keturunan Tionghoa.
-
Sunan Kuning dan Laskar Tionghoa: Kolaborasi Menentang Dominasi Kolonial
Kehidupan Sunan Kuning (Raden Mas Garendi) sudah diwarnai intrik politik berdarah sejak masa kecilnya, intrik yang menewaskan ayahandanya yaitu Pangeran Tepasana. Setelah ayahandanya tewas, Raden Mas Garendi dibawa lari meninggalkan Karaton Kartasura oleh Wiramenggala, pamannya, melintasi Gunung Kemukus menuju Grobogan.
-
Duet Pahlawan Nasional Dalam Perang Tahta Jawa III
Raden Mas Said alias Mangkunegara I saat itu berusia 22 tahun, bertempur secara gerilya di pedalaman Yogyakarta. Ketika berada di pedalaman Yogyakarta itulah Raden Mas Said mendengar kabar wafatnya Paku Buwono II, lantas menemui Pangeran Mangkubumi dan meminta mertuanya itu untuk bersedia dinobatkan menjadi raja baru Mataram.
-
Lima Tokoh Sejarah Identik Moksa, Mati Dengan Raganya Lenyap Begitu Saja
Moksa umumnya diartikan menghilang dengan "raganya lenyap begitu saja". Ini merupakan laku spritualitas Hindu, dan moksa yang disertai dengan lenyapnya raga ini adalah moksa tertinggi tingkatannya, disebut moksa purnamukti.
-
Ki Ageng Sela Kakek Tua Pawang Petir
Tokoh Ki Ageng Sela dikisahkan punya kesaktian mampu menangkap petir. Dalam tradisi lisan di beberapa daerah di Jawa Tengah, diceritakan bahwa pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang mencangkul di sawah. Langit mendung lalu turun hujan dan tiba-tiba petir menyambarnya. Namun dengan kesaktiannya dia berhasil menangkap petir itu. Petir tersebut…
-
Haji Misbach Dalam Perjalanan Awal Masuknya Komunisme di Nusantara
Saat itu, awal Maret 1923, adalah Kongres Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Sarekat Islam (SI) di Bandung. Kongres itu juga dihadiri oleh dua komunis dari Sumatera Barat, yaitu Haji Datuk Batuah dan Natar Zainuddin. Haji Datuk Batuah dan Natar Zainuddin terkagum-kagum dengan pidato Misbach itu.